infopaytren.com
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Fanfiction Gila: Sinchan, Dora dan Doraemon

Fanfiction Gila: Sinchan, Dora dan Doraemon

by Belajar Berbagi
....... Sinchan yang memiliki kekuatan kentut dasyat, akhirnya memutuskan untuk membela dunia. Dia akhirnya pergi keluar dari rumah. "Mama... akuuu ingin pergi melawan Ultraman" katanya dengan suara berat "Huh... pergi sana... Sinchan kau selalu memakan coklatku, dan lipstikku..." "Baik mama... aku akan kembali secepatnya" kata Sinchan dengan meneteskan air mata. "Tidak perlu kembali~~!!!" kata Mama.  "Shiro [...]

Fanfiction: Dora DKK Ketemu Kitaro Gege di Cafe Setan

Sampai sore mereka semua menikmati hari di Cafe setan. Terlihat Dora mulai kekenyangan karena banyak meminum es pocong, dan si barbie pun juga kekenyangan karena menu rujak cingur begitu mantab hari itu.

Untungnya cafe itu buka 24 jam. Jadi mereka bisa tidur-tiduran sebentar disana. Pada pukul 12 malam, saat tak ada tamu yang datang, dan cafe pun sepi. Tiba-tiba saja aura cafe berubah menjadi menyeramkan, Sinchan yang biasanya merinding kalau melihat cewe sexy, kala itu dia merinding setengah mati suri. Doraemon yang takut sama tikus aja, kali itu sudah ketakutan duluan. Padahal tidak ada siapa-siapa yang menakutkan dicafe itu, kecuali Dora dengan pertanyaannya.

Selang beberapa menit. Sekelompok hantu datang dengan menembus dinding, setengahnya ada yang masuk dengan membuka pintu. Ada gadis kucing dengan mulut yang lebar, dan gulungan tisu yang juga punya wajah, dan yang paling tengah, pria kecil bermata satu, kemanakah mata satunya???, mata satunya ternyata tertutup oleh rambut tebalnya. .... 

Selengkapnya -- FF Gila Dora DKK - Ketemu Kitaro Gege di Cafe Setan

Jumat, 23 November 2012

Hikayat Raja-Raja Pasai

I
Pemberian Nama Samudera
Maka tersebutlah perkataan Merah Silu (diam) di Rimba Jerau itu. Sekali peristiwa pada suatu hari Merah Silu pergi berburu. Ada seekor anjing dibawanya akan perburuan Merah Silu itu, bernama si Pasai.
Dilepaskannya anjing itu. Lalu, ia menyalak di atas tanah tinggi itu. Dilihatnya ada seekor semut, besarnya seperti kucing. Ditangkapnya oleh Merah Silu semut itu, lalu dimakannya. Tanah tinggi itupun disuruh Merah Silu tebas pada segala orang yang sertanya itu. Setelah itu, diperbuatnya akan istananya. Setelah itu, Merah Silu pun duduklah ia di sana; dengan segala hulubalangnya dan segala rakyatnya diam ia di sana. Dinamai oleh Merah Silu negeri itu Samudera, artinya semut yang amat besar (= raja); di sanalah ia diam raja itu.
II
Pembangunan Negeri Pasai
Kata sahib al-hikayat: Pada suatu hari, Sultan Malik as-Saleh pergi bermain-main berburu dengan segala laskarnya ke tepi laut. Dibawanya seekor anjing perburuan bernama si Pasai itu. Tatkala sampailah Baginda itu ke tepi laut, disuruhnya lepaskan anjing perburuan itu. Lalu, ia masuklah ke dalam hutan yang di tepi laut itu. Bertemu ia dengan seekor pelanduk duduk di atas pada suatu tanah yang tinggi. Disalaknya oleh anjing itu, hendak ditangkapnya. Tatkala dilihat oleh pelanduk anjing itu mendapatkan dia, disalaknya anjing itu oleh pelanduk.
Anjing itupun undurlah. Tatkala dilihat pelanduk, anjing itu undur, lalu pelanduk kembali pula pada tempatnya. Dilihat oleh anjing, pelanduk itu kembali pada tempatnya. Didapatkannya pelanduk itu oleh anjing, lalu ia berdakap-dakapan kira-kira tujuh kali.
Heranlah Baginda melihat hal kelakuan anjing dengan pelanduk itu. Masuklah Baginda sendirinya hendak menangkap pelanduk itu ke atas tanah tinggi itu. Pelanduk pun lari; didakapnya juga oleh anjing itu. Sabda Baginda kepada segala orang yang ada bersama-sama dengan dia itu:
"Adakah pernahnya kamu melihat pelanduk yang gagah sebagai ini? Pada bicaraku sebab karena ia diam pada tempat ini, itulah rupanya, maka pelanduk itu menjadi gagah".
Sembah mereka itu sekalian: "Sebenarnyalah seperti sabda Yang Maha Mulia itu". Pikirlah Baginda itu:
"Baik tempat ini kuperbuat negeri anakku Sultan Malik at-Tahir kerajaan". Sultan Malik as-Salehpun kembalilah ke istananya. Pada keesokan harinya Bagindapun memberi titah kepada segala menteri dan hulubalang rakyat tentera, sekalian menyuruh menebas tanah akan tempat negeri, masing-masing pada kuasanya dan disuruh Baginda perbuat istana pada tempat tanah tinggi itu.
Sultan Malik as-Salehpun pikir di dalam hatinya, hendak berbuat negeri tempat ananda Baginda. Titah Sultan Malik as-Saleh pada segala orang besar: "Esok hari kita hendak pergi berburu".
Telah pagi-pagi hari, Sultan Malik as-Salehpun berangkat naik gajah yang bernama Perma Dewana.
Lalu berjalan ke seberang datang ke pantai. Anjing yang bernama si Pasai itupun menyalak. Sultan Malik as-Salehpun segera mendapatkan anjing itu. Dilihatnya, yang disalaknya itu tanah tinggi, sekira-kira seluas tempat istana dengan kelengkapan, terlalu amat baik, seperti tempat ditambak rupanya. Oleh Sultan Malik as-Saleh tanah tinggi itu disuruh oleh Baginda tebas. Diperbuatnya negeri kepada tempat itu dan diperbuatnya istana. Dinamainya Pasai menurut nama anjing itu. Ananda Baginda Sultan Malik at-Tahir dirayakan oleh Baginda di Pasai itu.
III
Peminangan Seorang Sultan dan Perkawinannya
Kemudian dari itu, Sultan Malik as-Saleh menyuruhkan Sidi ‘Ali Ghijas ad-Din ke negeri Perlak meminang anak Raja Perlak. Adapun Raja Perlak itu beranak tiga orang perempuan, dan yang dua orang itu anak gehara, dan seorang anak gundik, Puteri Ganggang namanya.
Telah Sidi ‘Ali Ghijas ad-Din datang ke Perlak, ketiga ananda itu ditunjukkannya kepada Sidi ‘Ali Ghijas ad- Din. Adapun Puteri yang dua bersaudara itu duduk di bawah, anaknya Puteri Ganggang itu didudukkan di atas tempat yang tinggi, disuruhnya mengupas pinang.
Dan akan saudaranya kedua itu berkain warna bunga air mawar dan berbaju warna bunga jambu, bersubang lontar muda, terlalu baik parasnya. Sembah Sidi ‘Ali Ghijas ad-Din kepada Raja Perlak:
"Ananda yang duduk di atas, itulah pohonkan akan paduka ananda itu".
Tetapi Sidi ‘Ali Ghijas ad-Din tiada tahu akan Puteri Ganggang itu anak gundik Raja Perlak. Maka Raja Perlakpun tertawa gelak-gelak, seraya katanya: "Baiklah, yang mana kehendak anakku".
Sumber: Bunga Rampai Melayu Kuno, 1952 (dengan penyesuaian ejaan)

Terima kasih: . Disponsori oleh  Dutapulsa .

Botak - Naskah Cerita

Oleh Aning Panca A
Hari ini vila megah itu dibersihkan. Sudah lama tidak ada penghuninya.
Ayahku bertugas mengurusi vila itu. Kata Ayah, villa itu milik seorang pengusaha kaya di Jakarta. Minggu depan anak bungsu pemilik vila itu akan tinggal di sana untuk beberapa saat. Itu sebabnya vila itu harus dibersihkan.
Sore ini ibu memintaku untuk membantu membawa barang-barang dari warung. Setelah sampai rumah, kuletakkan barang bawaan ibu di dapur. Aku pun segera mandi sebab aku ingin ikut ayah pergi ke kota. Ada beberapa barang yang harus dibeli.
"Ayah, siapa nama anak pemilik vila itu?" tanyaku sepulang dari kota.
"Namanya Non Bunga. Dia nanti ditemani kakeknya," jelas Ayah. "Kalau tidak salah, Non Bunga itu sebaya kamu," kata Ayah lagi.
"Jadi, sekarang dia kelas VII SMP juga?" tanyaku lagi. Ayah mengangguk.
Sabtu siang. Penghuni baru vila itu telah datang. Suasana di vila yang sunyi itu tiba-tiba menjadi agak ramai. Namun, aku belum melihat anak perempuan yang bernama Bunga.
"Wah, mobil itu mewah sekali," kataku sambil melihat-lihat ke dalam mobil.
"Kapan ya bisa naik mobil seperti ini?" seruku.
Karena terlalu asyik mengamati mobil itu, aku tidak tahu kalau ada mata yang melihat aku dari tadi. Seorang kakek bermata ramah.
"Sekarang juga bisa. Kakek bisa mengantarmu jalan-jalan nanti sore. Kamu Budi, kan?" tanya Kakek itu. Senyumnya ramah juga.
"Dari mana Kakek tahu?"
"Kakek kenal bapakmu sejak hari pertama dia bekerja di vila ini. Waktu itu kamu masih kecil, lincah sekali. Kakek sampai kewalahan menggendongmu."
"Wah, berarti…berarti Kakek ini kakeknya Bunga ya?" tanyaku gembira.
"Benar. Kakek akan tinggal di sini menemani Bunga. Ayah Bunga sibuk dengan urusan kantornya, jadi tidak bisa menemani Bunga di sini," jelasnya.
"Katanya Bunga sakit ya, Kek?" tanyaku penasaran.
"Iya. Sejak kecil Bunga memang sering jatuh sakit. Ia jarang bertemu orang.
Akibatnya, Bunga tidak punya banyak teman."
"Saya mau jadi temannya."
"Ayo, kenalan dengan Bunga sekarang," ajak Kakek bersemangat.
Aku dan Kakek lalu masuk ke ruangan tengah vila. Di situ tampak seorang anak dengan kepala plontos. Ia duduk di atas koper memunggungi kami. Tak mungkin itu Bunga, pikirku, sebab Bunga anak perempuan, bukan laki-laki. Tidak mungkin anak botak itu Bunga!
"Bunga….ada teman yang mau kenalan denganmu sayang," Kakek memegang bahu anak botak itu. Astaga, ternyata dia memang Bunga!
"Waaah… botak!" celetukku tiba-tiba. Aku sendiri kaget dengan katakataku.
Seketika itu muka Bunga merah padam. Kakek juga kaget. Mata Bunga berkaca-kaca. Boneka yang didekapnya dilempar ke arahku. Kena ke mukaku.
Aku hanya bisa berlari keluar ruangan. Malu sekali rasanya. Tak kusangka aku telah berbuat yang tidak sopan. Bagaimana kalau kakek Bunga marah padaku? Kalau Ayah dipecat gara-gara aku? Aku terus berlari.
Lalu sebuah tangan memegang bahuku dari belakang. Ternyata kakek Bunga. Aku tidak mau dianggap anak yang tidak sopan. Aku segera minta maaf.
"Maafkan Budi, Kek! Budi tidak bermaksud untuk tidak sopan. Tadi betulbetul tidak sengaja."
"Tenang saja…" kata Kakek. "Kakek tahu kamu tidak punya niat seperti itu. Tapi bagaimanapun kamu harus minta maaf pada Bunga. Kamu sudah menyinggung perasaannya."
"Saya akan minta maaf, Kek" kataku "Tapi, apa Bunga akan memaafkan saya?
Saya khawatir dia tidak akan memaafkan saya,Kek."
"Kalau belum dicoba, kamu tidak bisa bilang seperti itu."
Tiba-tiba aku mendapat ide. Menurutku, Bunga akan memaafkan aku jika aku melakukan suatu hal. Menurut Kakek, ideku itu bagus. Jadi, aku harus minta izin orang tua.
Aku pun bergegas lari pulang. Kuceritakan ideku pada ibu. Menurut ibu aku harus bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Ibu mengizinkan aku melaksanakan ideku.
Kakek lalu mengantarku ke kota. Aku dan Kakek baru tiba di vila pada sore hari. Aku segera menemui Bunga.
"Bunga… aku mau minta maaf atas kejadian tadi siang, " kataku sambil tertunduk. Aku bisa merasakan Bunga menatapku tajam. "Karena itu… sebagai tanda permintaan maafku yang tulus… aku membotaki kepalaku…" kataku sambil melepas topi. "Maafkan aku yaaa…" kataku memelas.
Tiba-tiba Bunga tertawa lepas sambil berkata, "Hahaha… lucu, kamu lucu sekali…" Aku lega. Ternyata Bunga memaafkan aku.
"Aku minta maaf ya, tadi melempar kamu dengan boneka," katanya sambil mengulurkan tangan.
Sejak saat itu, kami bersahabat. Teman-teman sekelas sering bermain bersama kami di vila Bunga. Kami pun membentuk kelompok yang disebut "B" yang berarti Botak. Walaupun yang botak hanya aku dan Bunga.
Sumber: Bobo No. 46/XXXIV, 22 Februari 2007

Dari Buku Sekolah
Terima kasih: Duta Pulsa - Toko Barang Pilihan - Persewaan Alat Pesta

Jumat, 27 Januari 2012

BUSANA MUSLIMAH (Cerpen) [Tulisan baru]


BUSANA MUSLIMAH (Cerpen)


Berikut cerita tentang busana muslimah yang tidak biasa seperti diartikan orang sebagai jenis pakaian yang banyak dikembangkan di Indonesia, melainkan tentang busanamuslimah yang lain namun mengandung busana muslim itu sendiri juga.                    Di kota yang semakin berkembang seperti saat ini, banyak wanita yang beralih pekerjaan dari ibu rumah tangga menjadi pebisnis, ada yang berbisnis mie batangan sampai ke besi batangan, [...]
2012/01/27 pada 19:55 | Tag: Bahasa Indonesia, Cerita, Cerpen | Categories: Bahasa Indonesia, Cerita, Cerpen | URL: http://wp.me/p5Ro9-13y
Oleh Ayuna Kusuma (27-01-2012)

Senin, 21 November 2011

Anak Penyapu Jalan

Biasanya aku sendiri mengambil susu pagi-pagi buta.
Dengan cara ini lebih murah dibanding jika harus diantarkan.
Pagi itu tak kuduga kakek ada di belakangku.
“Biar kutemani ... kau tak takut berjalan sendiri?”
Aku tersenyum menggandeng kakek dengan tangan kanan. Tangan kiriku memegang panci.
“Boleh juga Kek, nanti saya beri hadiah segelas susu kental ....”
Kami berdua berjalan dengan gembira.
Dari jauh tampak seorang penyapu jalanan yang sudah mulai bertugas.
Terseok-seok langkahnya membersihkan jalanan yang penuh sampah dan debu di siang hari.
“Penyapu jalanan itu ayah kawanku, Kek ... Pak Holil namanya. Anaknya bernama Idi.”
“Pandai dia di sekolah?”
“Itulah, Kek, dia bodoh dan nakal. Uang sekolahnya sering dibelikannya kue-kue atau kelereng. Suka berjudi gambar. Sering membolos ....”
Ketika melampaui Pak Holil, aku memberi salam. Begitu pula kakek.
“Siapa nama kawanmu? Idi? Ajak dia ke rumah, boleh kakek menasihatinya. Untuk kau sendiri baik juga sambil jalan kuberitahukan. Mengapa Idi kawanmu itu berbuat demikian, kau tahu? Ia kurang santun, kurang khidmat kepada ayah dan ibunya.

Inilah kesalahan yang sangat besar. Ia harus kauberitahukan sebelum terlambat. Cobalah kau dengarkan apa-apa yang akan kukatakan ini dan sebisa-bisamu nanti ceritakanlah kepadanya. Mudah-mudahan Tuhanmembukakan hatinya dan ia dapat menjadi anak yang santun kembali kepada ayah ibunya.”
Makin erat kugandeng tangan kakek. Dalam hati, aku berjanji akan mencoba menginsafkan Idi.
“Kau tahu cucuku, dalam Al Quran sendiri nyata-nyata tercantum ayat yang artinya: Ibu mengandung kau, dengan  berbadan lemah berlipat ganda, juga tatkala melahirkan dan menyusukan. Sebab itu hendaklah kau bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada ibu bapakmu. Kemudian ada ayat lain yang artinya: berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu. Jika seorang atau keduanya sudah tua, janganlah mengeluarkan perkataan yang kasar atau menghardiknya dan hendaklah kauucapkan perkataan yang hormat, lemah lembut kepada keduanya. Dan hendaklah kau merendahkan diri karena cinta kepada keduanya. Hendaklah kaukatakan: Ya Tuhanku, rahmatilah ibu bapakku yang sudah mendidikku waktu aku masih kecil ....”
Kami makin dekat juga ke pemerahan susu.
Semua yang dikatakan kakek meresap sekali, sejuk, seperti udara pagi.
Apa yang dikatakan kekek tidaklah semata-mata untuk Idi, kawanku yang nakal itu, tetapi kiranya perlu juga untukku. Aku harus menebalkan lagi rasa khidmat kepada ayah ibuku, karena aku pun sering lupa dan kadang-kadang membangkang kalau disuruh ayah atau ibu.
“Kakek tunggu sebentar, saya akan ke dalam mengambil susu ....”
Dengan panci penuh susu, kami pun pulang.
Jalannya gontai, kakek sering ketinggalan. Bila demikian, aku berhenti menunggu.
Kepada kakek pun, aku lebih-lebih merasa khidmat pagi itu.
Kalau bisa sore nanti, Idi akan kuajak bermain ke rumah kakek ....”
Selesai.
Sumber: kumpulan cerpen Orang-Orang Tercinta, karya Sukanto S.A.


Disalin dari: http://www.bukupr.com/2011/11/anak-penyapu-jalan.html

Sabtu, 16 Juli 2011

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menyampaikan pengalaman kepada orang lain

hal-hal yang perlu Anda perhatikan saat menyampaikan pengalaman kepada orang lain adalah sebagai berikut.
1. Tentukan pengalaman apa yang kiranya dapat menggugah orang lain untuk tertarik mendengarkan cerita Anda.
2. Gunakan bahasa yang baik dan runtut.
3. Perhatikan pula intonasi, pelafalan, jeda, ekspresi, serta pilihan kata Anda saat bercerita. Hal ini akan jadi penentu menarik atau tidaknya pengalaman yang Anda ceritakan. Selain itu, perhatikanlah pula cara mata Anda mengarahkan pandangan kepada orang lain yang mendengarkan cerita pengalaman Anda.
4. Jika perlu, Anda dapat menggunakan bahan penunjang lain. Misalnya gambar, foto, ataupun benda yang mendukung penceritaan pengalaman Anda tersebut. Misalnya, pengalaman  saat Anda berkunjung ke tempat wisata. Anda dapat menceritakan pengalaman dengan menunjukkan foto-foto saat Anda berada di tempat wisata tersebut.
5. Bersikaplah terbuka kepada orang lain yang mendengarkan cerita pengalaman Anda. Dalam hal ini, jangan Anda saja yang bicara. Bisa saja teman Anda menimpali atau mengajukan pertanyaan tentang pengalaman tersebut. Hal ini akan membuat orang lain yang mendengarkan lebih terbawa dan merasakan apa yang Anda alami.



----

Minggu, 27 Maret 2011

Cerpen – Rainy Love (Hujan Cinta) karya Ayuna

Hujan. Aku menunggunya. Hujan hari ini. Agar aku bisa meminjam payungmu lagi nanti, lalu kita pergi ke halte bersama dan menunggu bis yang sama. Aku menikmati suasana itu kalau kau ingin tahu. Ah… aku hanya jenuh dengan pekerjaan di kantor yang tak pernah berhenti, malah semakin hari semakin bertambah. Entah aku dikuras oleh pemimpin perusahaan atau aku menjadi orang yang berpengaruh di perusahaan.
Seperti hari ini. Aku harus menyelesaikan setumpuk proposal kerjasama dengan pihak sponsor, siangnya aku harus berlari-lari untuk membuat duplikat fotokopi proposal kerjasama, sorenya aku harus mengirim email ke beberapa klien yang masih bertanya-tanya kapan barangnya akan mereka terima. Seringkali aku lupa makan siang,  Seringkali aku melupakan minum. Setelah sampai di rumah, pada malam hari, aku hanya bisa terkapar, menghela nafas yang sangat panjang. Akhirnya hari ini bisa berakhir juga, walaupun episodenya tetap sama, membosankan dan memuakkan.
Setiap malam aku hanya makan mie instan, minum kopi. Entah bagaimana nasib perutku, kuberikan makanan yang kurang menyehatkan, bahkan beberapa hari yang lalu aku putus asa. Ketika beberapa orang mengatakan mie instan bahaya untuk dimakan, karena mengandung banyak pengawet… “LALU BAGAIMANA DENGANKU??? AKU MAKAN APA LAGI???” itu lah teriakan hati dan perutku. Aku hanya orang miskin yang tinggal di tengah rumah susun yang padat dengan masalah.
Aku hanya orang yang terlahir miskin, yang berusaha menjadi kaya dengan bekerja di kantor yang padat jadwal dan tugas. Aku tidak bisa lagi hidup seperti ini. Seperti hari yang lalu. Seperti bulan sebelumnya… Tapi bagaimana???
Jawabannya ada pada sore itu. Ketika hujan membasahi bumi, aku tak punya payung untuk menghalau hujan. Jas hujanku tertinggal di rusun. Aku hanya berlari melawan hujan menuju halte bis, belum sampai halte, kau sudah menghentikanku. Kau berdiri di depanku, tersenyum di balik payung hitammu itu. “Hai… mau menunggu bis? Mari sama-sama”  katamu lembut saat itu. Entah apa yang aku lakukan ketika kau ucapkan sapaan itu dengan suara yang merdu. Mungkin penyanyi sedunia akan kalah bila bertanding denganmu……

Selengkapnya dapat didownload gratis di: http://duwur.com/60-gratis-cerpen-rainy-love-hujan-cinta.html

Selasa, 25 Januari 2011

Black Love (Jung and Kim) VIII


Malam di Apartemen, Jung dan Kim mulai belajar memasak bersama.
“Kim… kau sudah membeli bubuk cabai?”
“Sudah.. lihat saja di kantong yang satunya…”
“oh iya Kim…”
“Ya?…”
“Kau tahu,,, siapa yang kutemui tadi siang?”
“Aku tau… Seoyun kan?”
“Ha? Bagaimana kau…”
“Aku ada di belakangmu… kau saja yang tidak melihatku…”
“kau mendengar pembicaraan kami kalau begitu caranya?”
“hmm tentu saja…”
“Yah… sepertinya aku tak bisa lari darimu ya Kim”
“hehehe… bukan kau yang tak bisa lari dariku, tapi aku… Jung.. terima kasih”
“Untuk apa?”
“Kau sudah menjelaskan ke Seoyun kalau aku adalah keajaiban cinta yang tak kau sadari… Bwahahaha”
“Kim!!!… jangan membuatku malu….”
“Assshh… lihat wajahmu memerah seperti itu… aku memang keajaiban cinta kan?”
“Belum bisa dikatakan keajaiban yang sempurna”
“Maksudnya?”
“Iya… kalau… kita menikah… itulah yang dinamakan keajaiban cinta, mengerti Kim?”
“ah.. terserah kau saja… hehehe”
“Kim.. tolong ayam ini kau potong jadi dua belahan”
“Baik Nyonya Jung!”
“Kim…”
“Ya…”
“Seoyun itu wanita yang manis ya… dia mau menyerahkan Shin lagi, kepadaku, karena ia tak mau menyakitiku…”
“Memang Seoyun wanita yang manis”
“Kalau aku Kim?”
“Kau itu wanita yang Sadis… bwaahahaha”
“KIM…!!!”
“tuh.. lihat saja dirimu… selalu berteriak kalau aku bercanda… bukankah itu sadis?”
“Sadis tapi manis kan Kim? Buktinya kau begitu mencintaiku?”
“Aku mencintaimu karna aku mencintaimu.. bukan karna kau manis atau tidak manis… jadi kalau kau tua nanti dan sudah tidak manis lagi… aku akan selalu mencintaimu”
“Kim…”
“Ya…”
“Bulan depan mereka menikah… apakah kau sudah tahu kabar itu?”
“Kemarin aku kerumah ibu… beliau mengatakan hal itu juga.. sepertinya begitu… mereka akan menikah bulan depan, memangnya kenapa Jung? Kau ingin menjadi pengiring pengantinnya?”
“Aku tidak mau meminta Seoyun untuk menjadikanku pengiring pengantinnya, biar dia saja yang memintaku”
“ya…”
“Kim… coba lihat ini… setelah bumbu-bumbu ini dipotong, campur jadi satu, lalu rendam dengan air, masukkan ayam yang kau potong tadi… nah.. langsung rebus.. sekarang.. kita tunggu hingga 30 menit”
“Jung… kau memang pintar memasak ya…”
“sudah kau catat semua Kim?”
“Sudah… tenang saja…”
“Kim… Mengapa kau selalu membuntutiku? Apakah kau tak percaya padaku”
“hmm.. bukan karena itu.. aku ingin selalu ada disisimu dimana saja kau berada, tapi aku tak ingin mengganggumu.. Jung.. apakah salah aku bersikap seperti itu?”
“tidak.. hanya saja.. kalau kau selalu seperti ini, aku menjadi serba salah kalau yang aku katakan padamu tidak sama seperti yang kulakukan”
“maka dari itu… diantara kita jangan pernah ada yang berbohong…”
“kalau kau dikantor apakah kau bisa mengikutiku”
“bagaimana bisa? Oh,,, bisa aku bisa mengikutimu…”
“bagaimana?”
“mudah saja.. hatiku sudah ada dihatimu mengawasimu setiap hari”
“hehehe…”
“Jung… apa yang membuatmu menjadi seperti ini?”
“seperti apa?”
“seperti sekarang… kau bercanda denganku.. kita berkencan.. kita di balkon yang sama, sedang membicarakan cinta, pernikahan, masa depan… apa yang membuatmu menerimaku seperti ini?”
“Kim.. semua yang kau lakukan yang membuatku melakukan semua ini..”
“Jung.. kalau kita menikah… kau ingin tinggal dimana? Di apartemen seperti ini? Di rumah milik kita sendiri? Atau di rumah ibu?”
“hmmm… aku ingin memiliki rumah sendiri, kita bisa bebas tinggal disana”
“Jung! Baiklah aku akan membelikan rumah untukmu… !!!”
“Horeee… aku ingin rumah di pulau Jeju”
“Ha?? Mahal sekali…”
“Pokoknya Pulau Jeju…”
“Asssh… kalau begitu tidak jadi… kita tinggal di apartement ini saja sampai tua…”
“Kim….”
“Iya.. disini saja sampai tua”
“KIMM!!!”
“^_^”
Apakah yang terjadi selanjutnya?
Karya Ayuna Kusuma

Jumat, 21 Januari 2011

Black Love (Jung and Kim)



“Sudah lama kau menantinya, orang yang begitu kau cintai, Sudah 6 tahun orang itu tak pernah kembali, apakah kau masih begitu mengharapkannya?” Kim
“Tak perlu kau selalu menanyakan hal yang sama setiap kita bertemu, jawaban yang kuutarakan kepadamu masih sama seperti yang dulu, Aku masih setia menunggunya kembali” Jung
“Jung… kau ini seorang wanita, perlu orang yang melindungimu.. kini orang yang melindungimu pergi tak jelas kemana” Kim
“Kan ada kau, Kim.. bukankah kau sahabat yang selalu melindungiku?”Jung
“Orang yang melindungi lebih dari sahabat? Bukankah kau tidak memilikinya?” Kim
“Jangan membuatku semakin jatuh dalam kesedihan Kim” Jung
“Maaf… tapi kau tak pernah pantas sedih karna kehilangan orang seperti itu” Kim
“Kim!!… ingat dia kakakmu” Jung
“Bukan… dia orang yang egois”  Kim
“Kim… kau juga orang yang egois… setiap kau bicara padaku mengenai kakakmu, kau selalu menyuruhku melupakannya, bukankah itu juga egois Kim?” Jung
“…” Kim
“Kim, bagaimana kabar pekerjaanmu? Katanya kau dipindahkan ke Busan? Benarkah?” Jung
“Bagaimana aku mencintaimu? Bila aku sama sekali tak memiliki hak untuk mencintaimu? Bagaimana aku memilikimu? Bila aku tak tau jalan untuk menemuimu?” Kim
“Kim.. kita selalu bertemu, kau tidak ingat itu… hehehe” Jung
“Aku bertemu dengan ragamu, namun tidak hatimu…” Kim
“Kim… kapan kau dimutasi ke Busan? Kita akan bisa selalu bertemu, dan kau tak perlu khawatir lagi jauh dariku”Jung
“Jung… aku tak pernah jauh dari ragamu, justru hatimu yang sangat jauh dari hatiku” Kim
“Kim… jangan mengalihkan pembicaraan, aku tak suka itu” Jung
“Aku juga tak suka saat kau mengalihkan pembicaraanku, kita orang yang berkepribadian sama kan?” Kim
“Kim…”Jung
“Ya…” Kim
“Bagaimana kabar ibumu? Kabarnya beliau dirawat jalan?” Jung
“Ya. Karena ia tak pernah kembali  jadi ibuku selalu memikirkan kesehatannya sehingga lupa dengan diri sendiri” Kim
“Banyak orang yang kehilangan dia…” Jung
“Banyak orang yang telah berhasil dia kecawakan… harusnya kau berfikiran seperti itu” Kim
“…” Jung
“Jung…” Kim
“Ya…” Jung
“Pernahkah aku mengecewakanmu? Pernahkah aku meninggalkanmu? Pernahkah aku menolak untuk membantumu?” Kim
“Tidak..” Jung
“Lalu… menurutmu siapa yang pantas untuk kau cintai?” Kim
“Kakakmu yang pantas kucintai, karena ia tak pernah bicara seperti itu padaku, membandingkanmu dengannya didepanku” Jung
“Jung… mengapa aku tak pernah baik dihadapanmu?” Kim
“Kim.. kau orang yang terlalu baik dihadapanku, tapi bukan orang yang kucintai, kau harus bisa memahami hal itu”Jung
“Jung.. jika kau bisa melihat hatiku dan hatinya, ada cinta untukmu, kau pasti memilihku.. hehehe” Kim
“Bisa saja… heehehe… Kim… aku membawakan kimchi untukmu” Jung
“Wah… pasti enak…” Kim
“Semoga saja… kimchi ini untuk makanmu seminggu ini” Jung
“Ah? Harus dimakan sampai seminggu? Tidak.. pasti aku habiskan dalam satu malam, agar kita bisa bertemu lagi ^_^” Kim
“Kim… aku pergi dulu, jam makan siang sudah habis, kau pasti harus kembali ke pabrik kan?” Jung
“Oh.. ok… sampai jumpa besok Jung..” Kim
“Besok?” Jung
“Iya… kau harus membuatkan kimchi untukku lagi, karna malam ini akan kuhabiskan kimchimu ini” Kim
“Ah.. bisa saja… kalau ingin bertemu denganku, kau telepon aku dulu ya…” Jung
“BAIK!! Nyonya JUNG” Kim
“Hehehe… Kim…” Jung
“Ya…” Kim
“Seandainya aku bertemu denganmu lebih dulu, mungkin aku bisa mencintaimu” Jung
“…” Kim
Karya Ayuna Kusuma 20 January 2011
Nikmati kelanjutannya besok ^_^

Senin, 16 November 2009

2012, Matahari, dan Bosscha


Ninok Leksono
Kalau menyimak wacana tentang Kiamat 2012 yang disebut berdasarkan sistem kalender Maya, argumen pentingnya ada di sekitar Matahari. Antara lain disebutkan, pada tahun 2012 
Anting Logam ALM05aktivitas Matahari, yang sudah dimulai sejak tahun 2003, akan mencapai puncaknya. Selain itu, Matahari dan Bumi akan berada segaris dengan lorong gelap di pusat Galaksi Bima Sakti.
Tentu, Matahari amat sentral bagi Tata Surya, khususnya Bumi dan kehidupan yang ada di biosfernya. Jika ada peningkatan aktivitas di sana, Bumi pasti akan kena pengaruh. Namun, Matahari sudah rutin menjalani siklus aktivitasnya—yang berperiode 11 tahun itu—selama lebih dari empat miliar tahun dan sejauh ini baik-baik saja.
Kini, seiring dengan merebaknya buku tentang Kiamat 2012, juga film-film Hollywood tentang tema yang sama, juga muncul bantahan, tidak saja dari pimpinan suku Maya, tetapi juga dari kalangan astronomi. Mudah dimengerti kalau kalangan astronomi lalu bersuara. Ini karena penyebar kabar Kiamat 2012 banyak menyebut benda langit, seolah hal itu dapat menguatkan skenario yang mereka usung.
Padahal, dasar skenario itu sendiri, yakni kalender Maya, tidak berbeda jauh dengan kalender modern. Kalau kalender Maya punya berbagai macam siklus dengan panjang berlain-lainan, kita juga punya hal serupa. Jadi, kalau kalender Maya akan berakhir tanggal 21 Desember 2012, itu untuk kita bisa terjadi misalnya pada tanggal 31 Desember 1999. Esok hari setelah tanggal itu, yakni 1 Januari 2000, akan dimulai siklus baru, apakah itu yang berdasarkan hari, tahun, puluhan tahun, abad, atau milenium.
Seperti sudah kita saksikan, berakhirnya siklus macam-macam pada tanggal 31 Desember 1999 tidak disertai dengan kiamat bukan?
Bagaimana dengan perjajaran antara Bumi, Matahari, dan pusat Galaksi Bima Sakti? Penyebar kiamat menyebutkan, saat perjajaran akan menimbulkan gaya pasang yang akan memicu gempa bumi yang menghancurkan untuk menamatkan riwayat dunia. Gaya pasang yang sama juga akan memicu badai matahari yang akan menghancurkan Bumi. Bahkan, untuk menambah efek, planet-planet juga disebut akan berjajar pada tanggal 21 Desember 2012.
Ternyata, setelah diperiksa dengan saksama, Matahari tidak akan menutupi (menggerhanai) pusat galaksi. Bahkan, kalaupun Matahari bisa menutupi pusat galaksi, efek pasang dapat diabaikan, tulis Paul A Heckert yang dikutip pada awal tulisan ini.
Dengan penjelasan itu, skenario Kiamat 2012 tidak perlu dianggap serius.
Berdasarkan teori evolusi (lahir dan matinya) bintang, di mana Matahari adalah salah satunya, Matahari memang sekitar lima miliar tahun lagi akan mengembang menjadi bintang raksasa merah yang akan memanggang Bumi. Namun, bukankah lima miliar tahun masih jangka waktu yang amat, amat lama untuk ukuran manusia?
Namun, demi tujuan-tujuan lebih praktis, misalnya untuk mengetahui hubungan aktivitas Matahari dan gangguan komunikasi, atau untuk mengetahui lebih dalam tentang sifat-sifat Matahari, studi tentang Matahari tetaplah hal penting. Dan inilah rupanya yang diperlihatkan oleh Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat.
Penelitian Bosscha
Selama ini, Observatorium Bosscha lebih dikenal dengan penelitiannya di bidang struktur galaksi dan bintang ganda. Penelitian Matahari secara intensif dan ekstensif dilakukan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).
Namun, Sabtu 31 Oktober lalu, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diwakili oleh Dekan FMIPA Akhmaloka meresmikan teleskop matahari tayang langsung (real time). Sistem pengamatan Matahari yang terdiri dari tiga teleskop yang bekerja pada tiga panjang gelombang berlain-lainan ini dibuat dengan bantuan dari Belanda dan rancang bangunnya banyak dikerjakan oleh peneliti dan insinyur ITB sendiri.
Sistem teleskop yang dilihat dari sosoknya jauh lebih kecil dari umumnya teleskop yang ada di Bosscha ini terdiri dari teleskop yang bekerja pada gelombang visual, di mana untuk mendapatkan citra Matahari, sinarnya dilemahkan dulu sebesar 100.000 kali. Untuk pemantauan, citra Matahari diproyeksikan pada satu permukaan yang dapat dilihat dengan aman. Ini diperlukan karena selain untuk penelitian, fasilitas ini juga digunakan untuk pendidikan masyarakat.
Dua teleskop lainnya masing-masing satu untuk penelitian kromosfer rendah dan satu lagi untuk penelitian kromosfer tinggi.
Menambah semarak peresmian, hadir pula ahli fisika matahari dari Belanda, Rob Rutten, yang pagi itu menguraikan tentang kemajuan penelitian fisika matahari dan tantangan yang dihadapi.
Membandingkan materi paparannya, yang dilengkapi dengan citra hidup Matahari berdasarkan pemotretan menggunakan teleskop matahari canggih, tentu saja apa yang diperoleh oleh teleskop di Bosscha bukan bandingannya.
Kontribusi Indonesia
Direktur Observatorium Bosscha Taufiq Hidayat dalam sambutan pengantarnya menyebutkan, lembaga yang dipimpinnya beruntung masih dapat terus menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga di luar negeri untuk mendukung aktivitas ilmiahnya. Sementara peneliti Matahari di Bosscha, Dhani Herdiwijaya, selain menguraikan berbagai aspek riset tentang fisika matahari juga menyampaikan harapannya untuk mendapatkan hasil penelitian detail tentang Matahari.
Peresmian teleskop surya di Bosscha tampak sebagai momentum bagi bangkitnya minat terhadap riset Matahari.
Seiring dengan peringatan Tahun Astronomi Internasional 2009, berlangsung pula peringatan 400 tahun pengamatan bintik matahari. Dalam konteks ini, masih banyak tugas manusia untuk mendalami lebih jauh serba hal tentang Matahari, bintang yang menjadi sumber kehidupan di Bumi. Alam seperti yang ada sekarang ini, menurut skenario Ilahi, masih akan terbentang lima miliar tahun lagi, bukan sampai tahun 2012.

Senin, 02 November 2009

Konser Muse - Contoh cerita dari koran - dengan bahasa 'gaul'

Gokil Abizzz!
Banyak MuDA-ers nggak bisa nonton MUSE, Jumat (23/2). Makanya MuDA mo cerita, gimana Matthew Bellany, Dominic Howard, dan Chris Wolstenholme "menyihir " Jakarta.
Dan buat yang nonton, semoga bisa jadi kenangan, gimana malam itu kita teriak-teriak, loncat-loncat, dan ngerasain pengalaman yang susah banget kita jelasin pake kata-kata.
Abaya SongketJam 20.00 panggung masih kosong. Di latar belakang panggung ada delapan tabung silinder bening yang di dalamnya ada spiral berisi lampu. Di tengah, drumnya si Dominic masih ditutup kain hitam. Gitar-gitar si Matt ditaro di sebelah kiri panggung. Kita masih stay cool, paling-paling, sempat heboh waktu ada seorang kru yang ngebuka selubung tutup drum transparannya Dominic tadi. Dikit lagi….
Begitu pukul 20.30, this is it! Matt, Dominic, dan Chris yang pakai baju hitam-hitam setengah lari naik ke panggung. "Apa kabar Jakarta!" kata Matt langsung tanpa basa-basi, doi mainin intronya Knights of Cydonia! Aya-yayaa…. aya-yaaa… disambung gitar Matt yang menyayat ditambah drumnya Dominic, semua langsung nyanyi: How can we win, when fools can be kings….
Abis lagu pertama, Chemistry Crow langsung naik. Kita kayak masuk ke dunia MUSE, apalagi dengan dua lagu berikutnya Hysteria dan Supermassive Black Hole. Penonton setengah histeris waktu nyanyian teks Hysteria: Cause I want it now, I want it now/ give me tour hert and soul ….
Apalagi waktu masuk lagu Supermassive Black Hole. Gila, pas gitarnya Matt mulai menggosok dengan intronya,panggung gelap dan sorot lampu cuma mengarah ke gitaris-vokalis-pianis ini. Dia sibuk sendiri dan muter-muter dengan gitarnya. Lampu panggung selang-seling gelap terang-gelap terang, sampai suara falsetto Matt:ohh baby don't you know I Suffer …. Lampu panggung dari  arah belakang dan atas menyorot uap dari dry ice…uh…dahsyat! Kebetulan
MuDA nemu rekamannya di YouTube, intip aja http://www.youtube.com/watch?v=ueNK6HQKe-E.
Suasana berubah waktu lagu Butterflies and Hurricanes yang relatif slow. Di tengah lagu, Matt ngelepas gitarnya yang pakai efek echo itu, dan dia duduk di piano putih yang ada di deket drum. Abis itu lagu Assassin dan Citizen Erased.
Lagu Hoodo dan Apocalypse Please nunjukin canggihnya permainan piano Matt yang demen banget ama Sergei Rachmaninoff dan Tchaikovsky.
Pas dia mainin lagu Hoodo, tata cahaya keren banget, di tengah suasana panggung yang didominasi cahaya biru, satu lampu putih menyorot Matt yang lagi main piano putihnya. Asli, dia kayak nggak peduli gitu dengan sekitarnya. Dia asyik main pianonya dengan tempo lambat, sambil nyanyi dengan mata tertutup. Cool!
Abis itu, penonton digeber lagi dengan lagu Felling Good. Matt sempet iseng pakai megafon buat nyanyi: It's a new day/It's a new life/For me.
Tahu-tahu dia ngomong lagu berikutnya adalah lagu pertama dari album pertama, Showbiz. "This song is for anyone who knows us back then," kata doi. Langsung deh masuk suara intro dengan piano dari lagu Sunburn.
Selesai Sunburn, dengan cueknya,Matt ngomong, "This is a song called Starlight!" Wahhh…udah deh… semua penonton tepuk tangan di atas kepala ngikutin ritme drumnya Dominic. Semua serentak nyanyiin lagu itu. Bagian ini susah banget dicritain, soalnya semua penonton kayak kesihir gitu ama Matt, Dominic, dan Chris. Beberapa orang sampai matanya berkaca-kaca waktu nyanyi I just wanted to hold/ You in my arms/ I just wanted to hold.
Malam itu, MUSE berhasil banget mengaduk-aduk emosi penonton.
Habis Starlight, mereka ngebawain Plug In Baby dilanjutin ama … Time is Running Out! Semua orang yang nyanyi sambil teriak dan lompat-lompat I wont let you bury it/I won't let you smother it/ I wan't let you murder it/ our time is running out… kayak lagi nglepasin unek-unek mereka, sehingga tiap kata tuh kayak keluar dari tiap orang yang ingin teriak-teriak dan ngelepasin rasa itu.
Setelah lagu New Born, MUSE turun dari panggung. Penonton berteriak-teriak "We Want More!" mereka keluar dan bawain Maps of The Problematique, Stockholm Syndrome, dan Take A Bow sebagai lagu penutup.
Di antara balon-balon super besar berisi confetti, konser itu emang gokil abizz!
MUSE kayaknya ngerasain chemistry yang sama. Dominic sempat ngangkat satu tangan dan bilang, Thank you Jakarta, You are great. We'll be back!
Sumber: Kompas, Jumat 2 Maret 2007
dari buku sekolah